Teori Kepribadian
TEORI KEPRIBADIAN
Sumber : https://images.app.goo.gl/EdHZ3YrXbpuJLGoi9
Kepribadian adalah cara unik di mana setiap individu berpikir, bertindak, dan merasakan sepanjang hidup. Kepribadian tidak sama dengan karakter dan tempramen, tetapi karakter dan tempramen adalah bagain penting dari kepribadian. Kepribadian pada orang dewasa merupakan kombinasi dari tempramen dan sejarah pribadi keluarga, budaya, dan waktu di mana mereka dibesarkan. Jadi, kepribadian adalah bidang psikologi di mana ada beberapa cara untuk menjelaskan karakteristik perilaku manusia.
PERSPEKTIF PSIKODINAMIK
Konsep Kepribadian Freud
Freud percaya bahwa ada lapisan-lapisan kesadaran di dalam pikiran. Keyakinannya mengenai alam bawah sadar, diterbitkan dalam The Psychopathology of Everyday Life.
Struktur Pikiran
Freud percaya bahwa pikiran dibagi menjadi tiga bagian yaitu prasadar, sadar, dan tidak sadar. Menurut Freud pikiran sadar merupakan kesadaran seseorang saat ini dan pikiran prasadar merupakan pikiran yang berisi ingatan, informasi, dan peristiwa yang dapat dengan mudah disadari. Pikiran bawah sadar merupakan tingkat pikiran di mana pikiran, perasaan, ingatan, dan informasi lainnya yang disimpan, tetapi tidak mudah atau secara sukarela dibawa ke dalam kesadaran. Dia juga percaya bahwa pikiran bawah sadar adalah faktor penentu terpenting dalam perilaku dan kepribadian manusia.
Pembagian Kepribadian Freud
Kepribadian menurut Freud dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
1. ID, bagian dari kepribadian yang hadir saat lahir dan sama sekali tidak disadari. Bagian ini mengandung semua dorongan biologis dasar, seperti lapar, haus, mempertahankan diri, dan seks. Pada ID, terdapat prinsip kesenangan yaitu sebagai keinginan untuk segera memenuhi kebutuhan tanpa memperhatikan konsekuensinya.
2. Ego (direktur eksekutif), bagian dari kepribadian yang berkembang dari kebutuhan untuk menghadapi kenyataan, sebagian besar sadar, rasional, dan logis. Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas, yaitu kebutuhan untuk memenuhi tuntutan id hanya dengan cara yang tidak akan menimbulkan konsekuensi negatif. Contoh sederhanya, "jika rasanya enak, lakukanlah, tetapi hanya jika Anda bisa lolos begitu saja".
3. Superego (penjaga moral), bagian dari kepribadian yang bertindak sebagai pusat moral. Superego mengandung hati nurani, yaitu bagian yang menghasilkan rasa bersalah atau kecemasan moral, ketika mereka melakukan kesalahan.
Tiga Bagian Kepribadian Bekerja Sama
Tiga kepribadian ini dapat dilihat pada film kartun, biasanya ID yaitu setan kecil, superego yaitu malaikat, dan ego yaitu orang atau hewan yang terjebak di tengah antara mereka yang akan memutuskan tindakan apa yang akan diambil. Jadi jika dilihat dari gambaran diatas, maka ID membuat tuntutan, superego membatasi bagaimana tuntutan itu dapat dipenuhi, dan ego harus membuat rencana yang akan menenangkan ID tetapi memuaskan superego. Jika id atau supergo tidak mendapat apa yang diinginkan, maka akan menimbulkan banyak kecemasan bagi ego itu sendiri.
Maka dari itu, agar ketiga bagian kepribadian ini dapat berfungsi dengan baik, Freud berasumsi bahwa mekanisme pertahanan adalah salah satu alat paling penting untuk mengatasi kecemasan yang disebabkan oleh konflik ini. Mekanisme pertahanan psikologis adalah cara mengatasi kecemasan melalui distorsi persepsi seseorang tentang realitas secara tidak sadar.
Tahap Pengembangan Kepribadian
1. Tahap Oral (18 bulan pertama)
Zona sensitif seksual adalah mulut. Menurut Freud adalah over weaning atau yang disebut dengan penyapihan. Penyapihan yang terjadi terlalu cepat atau lambat dapat mengakibatkan terlalu sedikit atau banyak kepuasan kebutuhan oral anak, sehingga menimbulkan aktivitas dan ciri-ciri kepribadian. Kepribadian orang dewasa yang terfiksasi secara oral adalah makan berlebihan, minum terlalu banyak, merokok berantai, berbicara terlalu banyak, menggigit kuku, mengunyah permen karet, dan kecenderungan untuk terlalu bergantung dan optimis (kebutuhan oral dimanjakan) atau terlalu agresif dan pesimis (ketika kebutuhan lisan ditolak).
2. Tahap Anal (18-36 bulan)
Saat anak menjadi balita, menurut Freud zona sensitif seksual bergerak dari mulut ke anus, dia juga percaya bahwa anak-anak mendapat banyak kesenangan baik dari menahan dan mengeluarkan kotorannya sesuka hati. Freud berpikir bahwa area utama konflik pada tahap ini adalah pelatihan toilet, yaitu dengan menuntut seorang anak agar menggunakan toilet pada waktu tertentu dengan cara tertentu. Kepribadian ekspulsif anal memiliki karakteristik yaitu anak yang memberontak secara terbuka dan menolak untuk pergi ke toilet. Sedangkan kepribadian retentif anal memiliki karakteristik berupa anak takut membuat kekacauan dan memberontak secara pasif dengan menahan kotoran.
3. Tahap Phalic (3-6 tahun)
Zona sensitif seksual bergeser ke alat kelamin. Pada tahap ini, anak memiliki keingintahuan dan minat seksual pada alat kelamin. Pada tahap ini terdapat fenomena berupa kompleks Oedipus yaitu tahap dimana seorang anak mengembangkan ketertarikan seksual terhadap orang tua lawan jenis (ibu) dan kecemburuan terhadap orang tua sesama jenis (ayah). Biasanya laki-laki yang mengalami kompleks oedipus. Sedangkan pada perempuan disebut dengan kompleks Electra. Anak perempuan akan menganggap ayah mereka sebagai target kasih sayang dan ibu mereka menjadi saingannya. Pada pria fiksasi pada tahap ini adalah "anak mama" yang tidak pernah tumbuh dewasa dan pada wanita dengan fiksasi ini mungkin mencari figur ayah yang jauh lebih tua untuk dinikahi.
4. Tahap Latensi (6 tahun-pubertas)
Pada tahap ini anak-anak sudah mendorong perasaan seksual mereka terhadap lawan jenis ke alam bawah sadar dalam reaksi defensif lainnya, yaitu depresi. Anak-anak akan tetap berada dalam tahap perasaan seksual yang tersembunyi. Pada tahap ini, anak akan tumbuh dan berkembang secara intelektual, fisik, dan sosial tetapi tidak secara seksual. Pada usia ini, anak laki-laki hanya akan bermain dengan laki-laki, dan begitu pula pada perempuan.
5. Tahap Genitas (pubertas akhir)
Pada tahap ini, perasaan seksual yang dulu tertekan tidak bisa lagi diabaikan. Tubuh akan berubah dan dorongan seksual sekali lagi diizinkan masuk ke dalam kesadaran, tetapi dorongan ini tidak lagi menjadikan orang tua sebagai targetnya. Fokus keingintahuan dna ketertarikan seksual akan menjadi remaja lain, selebritas, dan objek pemujaan lainnya. Tahap ini juga masuk ke dalam perilaku sosial dan seksual pada orang dewasa.
Para Neo-Freudian
Neo-Freudian merupakan pengikut Freud yang mengembangkan teori psikodinamik bersaing mereka sendiri.
Carl Gustav Jung
Jung percaya bahwa ketidaksadaran memiliki lebih dari sekadar ketakutan, dorongan, dan ingatan pribadi. Dia percaya bahwa tidak hanya ketidaksadaran pribadi (Freud), tetapi terdapat juga ketidaksadaran kolektif. Ketidaksadaran kolektif mengandung semacam ingatan "spesies", ingatan akan ketakutan lampau dan tema yang muncul di banyak cerita rakyat dan budaya atau bisa disebut dengan kenangan. Terdapat istilah arketipe yaitu ingatan kolektif dan universal manusia. Arketipe yang terkenal yaitu anima/animus (sisi feminim pria/maskulin wanita) dan bayangan (sisi gelap kepribadian atau setan). Sedangkan sisi kepribadian yang diperlihatkan ke dunia disebut dengan persona.
Alfred Adler
Adler mengembangkan teori bahwa sebagai anak muda, anak-anak tak berdaya, dan semua orang mengembangkan perasaan rendah diri ketika membandingkan diri mereka dengan orang dewasa yang lebih kuat dan superior di dunia mereka. Maka terdapat mekanisme pertahanan kompensasi, di mana orang mencoba untuk mengatasi perasaan rendah diri dalam suatu bidang kehidupan dan berjuang untuk menjadi unggul di bidang lain.
Adler juga mengembangkan teori bahwa urutan kelahiran seseorang anak mempengaruhi kepribadian. Anak sulung akan merasa rendah diri begitu adiknya mendapatkan semua perhatian dan sering dituntut untuk menjadi orang yang berprestasi. Anak tengah sedikit lebih mudah, merasa lebih unggul dari anak sulung, mendominasi adik-adiknya, dan cenderung kompetitif. Anak bungsu seharusnya dimanjakan dan dilindungi tetapi mereka akan merasa rendah diri karena tidak diberi kebebasan dan tanggung jawab seperti anak sulung atau anak tengah.
Karen Horney
Karen Horney tidak setuju dengan pandangan Freudian tentang perbedaan laki-laki dan perempuan dan terutama dengan konsep kecemburuan terhadap penis. Menurutnya dia memberi konsep "kecemburuan pada rahim", yang menyatakan bahwa laki-laki merasa perlu untuk mengkompensasi kurangnya kemampuan melahirkan anak dengan berjuang untuk sukses di bidang lain.
Kecemasan dasar yang tercipta pada seorang anak yang lahir ke dunia yang jauh lebih besar dan kuat daripada seorang anak. Anak yang memiliki pengasuhan yang kurang aman dan cara-cara maladaptif akan mengembangkan kepribadian neurotik. Menurut Horney, cara anak mengatasi kecemasan adalah dengan mendekati orang dan menjauhi orang-orang dengan menarik diri dari hubungan pribadi.
Erik Erikson
Erikson melepaskan diri dari penekanan Freud pada seks, dia lebih memilih untuk menekankan hubungan sosial yang penting pada setiap tahap kehidupan. Terdapat delapan tahap psikososial Erikson.
Evaluasi Pengaruh Teori Freudian
Walaupun teori Freud mendapatkan beberapa kritik, teori inilah yang pertama kali menyatakan bahwa kepribadian berkembang melalui tahapan-tahapan, kita juga tidak selalu sadar akan alasan perilaku, dan pengalaman awal kehidupan memengaruhi siapa kita di kemudian hari. Kemudian, gagasannya mengenai mekanisme pertahanan memiliki beberapa dukungan penelitian dan berguna dalam psikologi klinis sebagai cara untuk menggambarkan perilaku defensif dan pemikiran irasional orang.
PANDANGAN KOGNITIF PERILAKU DAN SOSIAL TENTANG KEPRIBADIAN
Behavioris dan ahli teori kognitif sosial memiliki pandangan yang sangat berbeda tentang kepribadian.
TEORI BELAJAR
- Bagi kaum behavioris, kepribadian tidak lebih dari sekumpulan respons atau kebiasaan yang dipelajari.
- Ahli teori pembelajaran kognitif sosial, yang menekankan pentingnya pengaruh perilaku orang lain dan harapan seseorang terhadap pembelajaran, mereka berpendapat bahwa pembelajaan observasional, pemodelan, dan teknik pembelajaran kognitif lainnya dapat mengarah pada pembentukan pola kepribadian.
Determinisme dan Efikasi Diri Bandura
Bandura percaya bahwa tiga faktor saling memengaruhi dalam menentukan pola perilaku yang membentuk kepribadian, yaitu lingkungan, perilaku itu sendiri, dan faktor pribadi atau kognitif yang dibawa orang tersebut ke dalam situasi dari pengalaman sebelumnya. Bandura menyebut hubungan ini dengan determinisme resiprokal.
Salah satu variabel pribadi yang lebih penting yang dibicarakan Bandura adalah self-efficacy. Self efficacy adalah harapan seseorang tentang seberapa efektif upayanya untuk mencapai suatu tujuan dalam keadaan tertentu. Rasa efikasi diri orang bisa tinggi atau rendah, tergantung apa tang terjadi dalam keadaan serupa di masa lalu, apa yang dikatakan orang lain tentang kompetensi mereka, dan penilaian kemampuan mereka sendiri. Menurut bandura, orang yang memiliki efikasi diri yang lebih tinggi akan lebih gigih dan berharap untuk berhasil, sedangkan orang yang memiliki efikasi diri yang rendah berharao untuk gagal dan cenderung menghindari tantangan.
Teori Pembelajaran Sosial Rotter: Harapan
Julian Rotter menyusun teori berdasarkan prinsip dasar motivasi yang diturunkan dari hukum efek Thorndike, yaitu orang termotivasi untuk mencari penguatan dan menghindari hukuman. Dia memandang kepribadian sebagai serangkaian respons potensial yang relatif stabil terhadap berbagai situasi.
Salah satu pola respons yang sangat penting dalam pandangan Rotter menjadi konsep locus of control, yaitu kecenderungan orang untuk berasumsi bahwa mereka memiliki kendali atau tidak memiliki kendali atas peristiwa dan konsekuensi hidup mereka.
- Locus of control internal : orang menganggap tindakan dan keputusannya sendiri secara langsung memengaruhi konsekuensi.
- Locus of control external : orang menganggap bahwa hidupnya lebih dikendalikan oleh orang lain yang berkuasa, keberuntungan, atau nasib.
Terdapat dua faktor utama yang memengaruhi keputusan seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu dalam situasi tertentu.
- Harapan, mirip dengan self-efficacy, yaitu perasaan subyektif seseorang bahwa perilaku tertentu akan menyebabkan penguatan konsekuensi.
- Nilai penguatan, preferensi individu untuk penguatan tertentu atas semua kemungkinan konsekuensi penguatan lainnya.
Evaluasi Pembelajaran Kognitif Perilaku dan Sosial Kepribadian
Pada teori ini tidak melibatkan proses mental ketika menjelaskan perilaku, dan tidak terdapat pengaruh sosial pada pembelajaran.
KEKUATAN KETIGA : HUMANISME DAN KEPRIBADIAN
CARL ROGERS DAN PERSPEKTIF HUMANISTIK
Perspektif humanistik, Carl Rogers dan Abrahan Maslow menginginkan psikologi untuk fokus pada hal-hal yang membuat manusia unik, seperti emosi subyektif dan kebebasan untuk memilih takdirnya sendiri.
Kecenderungan aktualisasi diri adalah usaha untuk memenuhi kapasotas dan kemampuan bawaan mereka dan untuk menjadi segala sesuatu yang dimungkinkan oleh potensi genetik mereka. Alat penting dalam aktualisasi diri manusia adalah pengembangan citra diri sendiri atau konsep diri.
Dalam konsep diri, terdapat dua komponen penting, yaitu :
- Diri sejati yaitu persepsi aktual seseorang tentang karakteristik,sifat, dan kemampuan yang membentuk dasar dari aktualisasi diri.
- Diri ideal yaitu persepsi tentang apa yang seharusnya dilakukan seseorang, menjadi atau ingin menjadi.
Penghargaan Positif Bersyarat dan Tidak Bersyarat
- Penghargaan positif disini sebagai kehangatan, kasih sayang, cinta, dan rasa hormat yang darang dari orang-orang penting (teman, saudara, guru, dan orang yang dikagumi) dalam pengalamannya.
- Penghargaan positif tanpa syarat adalah kasih sayang atau cinta yang dilakukan tanpa pamrih, sehingga diperlukan agar orang dapat mengeksplorasi sepenuhnya apa yang akan mereka capai.
Penghargaan positif bersyarat adalah cinta atau kasih sayang yang bergantung, karena seseorang melakukan apa yang diinginkan oleh orang lain.
Bagi Rogers, orang yang berfungsi penuh adalah seseorang yang sedang dalam proses mengaktualisasikan diri, orang ini akan menggali potensi dan kemampuan, serta menyeseuaikan antara diri sejati dengan diri ideal.
PANDANGAN HUMANISTIK DARI KEPRIBADIAN
Walaupun teori humanistik sulit untuk diuji secara ilmiah, tetapi teori ini akan berdampak pada pengembangan terapi yang digunakan untuk mendorong pertumbuhan diri dan membanu orang lebih memahani diri mereka sendiri dan orang lain.
TEORI SIFAT
> Teori sifat adalah teori yang berusaha menggambarkan ciri-ciri yang membentuk kepribadian manusia dalam upaya memprediksi perilaku tersebut.
> Sifat adalah cara berpikir, merasakan, atau berperilaku yang konsisten dan bertahan lama.
> Allport : upaya untuk mendeskripsikan sifat-sifat yang membentuk kepribadian dengan membuat daftar 200 sifat yang terhubung ke sistem saraf untuk memandu perilaku seseorang.
> Cattell :
Raymond Cattel mendefiniskan dua jenis sifat, yaitu sifat permukaan dan sifat sumber.
- Sifat permukaan : menggambarkan ciri-ciri kepribadian yang mudah dilihat oleh orang lain.
- Sifat sumber : ciri-ciri yang lebih mendasar yang mendasari sifat permukaan.
Misalnya, Rani memiliki sifat malu, pendiam, dan tidak menyukai keramaian (sifat permukaan) yang terkait dengan sifat sumber berupa kecendeerungan untuk menarik diri dari rangsangan yang berlebihan.
> Teori Sifat Modern
Terdapat model lima faktor, yaitu sebagai berikut :
1. Keterbukaan, digambarkan sebagai kesediaan seseorang untuk mencoba hal baru dan terbuka terhadap pengalaman baru.
2. Kehati-hatian, mengacu pada motivasi seseorang, dengan orang-orang yang mendapat skor tinggi dalam model ini adalah mereka yang berhati-hati untuk berada di tempat atau waktu dan juga berhati-hati dengan barang-barang.
3. Extraversion, menurut Jung seseorang dapat dibagi menjadi dua tipe kepribadian, yaitu extrovert (ramah, dan mudah bergaul) dan introvert (lebih menyendiri dan tidak suka menjadi pusat perhatian).
4. Agreeableness, mengacu pada gaya emosional dasar seseorang, yang mungkin santai, ramah, dan menyenangkan (skala atas) atau pemarah dan sulit bergaul (skala bawah).
5. Neurotisme , mengacu pada ketidakstabilan atau kestabilan emosi. Orang yang khawatir, cemas, dan murung mendapat skor tinggi, dan sebaliknya.
> Teori sifat mencoba untuk menjelaskan kepribadian dalam hal sifat seseorang dan kurang menjelaskan bagaimana perkembangan kepribadian atau mencoba untuk mengubah kepribadian.
KEPRIBADIAN : GENETIKA DAN BUDAYA
GENETIKA PERILAKU
> Bidang genetika perilaku dikhususkan untuk mempelajari seberapa banyak kepribadian individu disebabkan oleh sifat-sifat yang diwariskan.
> Studi Kembar
Kembar identik berbagi 100% materi genetik mereka yang awalnya berasal dari satu sel telur yang dibuahi, sedangkan kembar fraternal hanya berbagi sekitar 50% materi genetik mereka, seperti saudara lain pada umumnya. Dalam studi Minnesota, kembar identik lebih mirip daripada kembar fraternal.
> Studi Adopsi
Alat ahli genetika perilaku lainnya adalah mempelajari anak adopsi dari keluarga angkat dan keluarga kandung mereka. Para peneliti ini dapat mengungkap beberapa pengaruh lingkungan dan genetik yang dimiliki atau tidak dimiliki pada kepribadian. Dalam studi ini dijelaskan juga bahwa pengaruh genetik berperan besar dalam perkembangan kepribadian, terlepas dari kesamaan atau perbedaan lingkungan.
> Konsep Heritabilitas atau seberapa banyak beberapa sifat dalam suatu populasi yang dikaitkan dengan pengaruh genetik dan sejauh mana variasi genetik individu memengaruhi perbedaan dalam perilaku yang diamati. Dilihat dari studi yang telah dilakukan, ini menunjukkan bahwa variasi sifat kepribadian adalah sekitar 25-50% yang diwariskan. Selain itu, pengaruh lingkungan tampaknya juga mencakup sekitar setengah dari variasi sifat kepribadian.
PENILAIAN KEPRIBADIAN
1. Penilaian Perilaku
Penilaian perilaku merupakan observasi langsung yang digunakan untuk mengukur perilaku melalui skala peringkat (peringkat numerik baik dari penilai atau klien) dan penghitungan frekuensi (menghitung frekuensi perilaku tertentu dalam batas waktu yang ditentukan).
2. Wawancara
Metode penilaian kepribadian di mana profesional mengajukan pertanyaan kepada klien dan mengizinkan klien untuk menjawa, biak secara terstruktur atau tidak terstruktur.
3. Inventaris Kepribadian
Metode penilaian dengan daftar pertanyaan standar, biasanya jawaban "ya/benar" atau "tidak/salah", metode ini cenderung objektif dan dapat dipercaya, dan banyak yang memiliki skala validitas dan reliabilitas.
4. Uji Proyektif
Penilaian kepribadian yang menghadirkan rangsangan visual yang tidak jelas kepada klien dan meminta klien untuk merespons dengan apa pun yang terlintas dalam pikiran. Akan tetapi, tes proyektif pada dasarnya sangat subyektif.
Contoh di Kehidupan Sehari-hari :
1. Adek saya kembar dan ketika saya melihat mereka berperilaku ada kemiripan diantara mereka. Ketika salah satu diantara mereka sedang sakit. Maka kembarannya akan membantu mengasuh sang adik atau kakaknya. Begitupun sebaliknya.
2. Ketika saya sedang meminta bantuan dengan teman yang tidak pernah ngobrol dengan saya, maka saya akan merasa canggung sehingga saya berpikir bahwa dia rasanya tidak suka dengan saya, padahal itu diluar kendali saya.

Komentar
Posting Komentar