Seksualitas dan Gender

Sumber : https://images.app.goo.gl/2x4TXAdW8tfKrfUf7
 

SISI FISIK SEKSUALITAS MANUSIA

Ciri-Ciri Seks Primer dan Sekunder

> Ciri-Ciri Seks Primer

    Wanita : 

    - Vagina (saluran yang menghubungkan bagian luar tubuh ke lubang rahim)

    - Uterus (rahim)

    - Ovarium (kelenjar kelamin wanita)

    Laki-laki :

    - Penis (organ tempat laki-laki buang air kecil dan mengeluarkan sel kelamin atau sperma)

    - Testis (kelenjar kelamin laki-laki)

    - Skrotum (kantong luar yang menahan testis)

    - Kelenjar prostat (kelenjar yang mengeluarkan sebagian besar cairan yang membawa sperma)


> Ciri-Ciri Seks Sekunder

    Wanita :

    - Percepatan pertumbuhan yang dimulai sekitar 10-12 tahun dan berakhir sekitar 1 tahun setelah siklus menstruasi pertama. Sikluas pertama ini dikenal dengan menarche dan terjadi pada usia rata-rata sekitar 12 tahun di negara maju. 

    - Payudara membesar sekitar 2 tahun setelah percepatan pertumbuhan dan mampu menghasilkan susu untuk bayi. 

    - Pinggul yang lebih lebar untuk memungkinkan lewatnya janin melalui tulang panggul.

    - Munculnya rambut pada bagian kewanitaan.

    - Timbulnya timbunan lemak pada bagian paha. 

    Laki-laki :

    - Suara mulai memberat

    - Munculnya rambut pada wajah, dada, dan bagian kemaluan. 

    - Perkembangan tekstur kulit yang lebih kasar.

    - Peningkatan tinggi badan yang lebih besar daripada wanita. 

    - Munculnya jakun di leher

    - Mulainya produksi sperma dan pertumbuhan penis dan testis.

Perkembangan Karakteristik Seks

Ciri-ciri seks primer berkembang saat embrio tumbuh di dalam rahim akibat dari kromosom yang terkandung di dalam sel embrio serta pengaruh hormonal. Sekitar 5 minggu kehamilan, dua organ yang disebut gonad terbentuk di dalam embrio. Pada titik ini, gonad belum berdiferensiasi dan embrio berpotensi menjadi jantan atau betina. Faktor penentu dikendalikan oleh kromosom, jika kromosom pasangan ke-23 mengandung kromosom Y, sehingga menyebabkan gonad melepaskan testosteron, hormon pria atau androgen. Jika pasangan kromosom ke-23 mengandung dua kromosom perempuan atau X , sehingga tida ada testosteron yang dilepaskan, dan gonad akan berkembang menjadi ovarium yang mensekresi estrogen. Akan tetapi, jarang terjadi bayi yang lahir dengan organ seksual yang ambigu (tidak jelas laki-laki atau perempuan). Orang dengan kondisi ini disebut sebagai interseks

SISI PSIKOLOGIS SEKSUALITAS MANUSIA

Identitas Gender

> Peran gender adalah harapan budaya terhadap perilalku seseorang yang dianggap sebagai laki-laki atau perempuan, termasuk sikap, tindakan, dan sifat kepribadian yang terkait dengan jenis kelamin tertentu dalam budaya tersebut.

> Jenis kelamin adalah proses dimana orang mempelajari preferensi dan harapan budaya mereka untuk perilaku laki-laki dan wanita.

> Proses perkembangan identitas gender seseorang dipengaruhi oleh faktor biologis dan lingkungan, meskipun jenis faktor mana yang lebih besar pengaruhnya masih kontroversial. 

> Pengaruh Psikologis

Identitas gender, seperti seks fisik, juga tidak selurus laki-laki yang maskulin dan perempuan yang feminim. Rasa identitas gender seseorang tidak selalu cocok dengan penampilan luarnya atau bahkan kromosom seks yang menentukan mereka laki-laki atau perempuan disebut dengan transgender. 

Disforia gender merupakan sindrom ketika seseorang mengalami ketidaksesuaian gender, merasa bahwa dia menempati tubuh dari jenis kelamin yang lain atau beberapa jenis kelamin alternatif yang tidak sama dengan jenis kelamin yang seharusnya ditugaskan kepada mereka dan memiliki tekanan yang signifikan tentang ketidaksesuaian tersebut. 

Kondisi gender alternatif lainnya disebut dengan sindrom couvade, yaitu dimana laki-laki yang pasangannya sedang hamil akan mengalami semacam 'kehamilan simpati'. Misalnya, dia mungkin merasakan sakit fisik saat istrinya melahirkan. Ada yang menganggap ini terjadi karena gangguan jiwa dan ada yang menganggap juga karena melibatkan perubahan biologis yang nyata. 

> Pengaruh Biologis

Biologi memiliki peran penting dalam identitas gender, setidaknya dalam aspek-aspek tertentu dari identitas dan perilaku gender. Pengaruh biologis pada gender tidak hanya dari alat kelamin, tetapi juga perbedaan hormonal antara pria dan wanita. Para peneliti percaya bahwa hormon-hormon ini selama perkembangan janin tidak hanya menyebabkan pembentukan organ seksual tetapi juga mempengaruhi perilaku bayi yang biasanya dikaitkan dengan satu jenis kelamin atau lainnya. Kelakuan penampilan gender adalah tahap perkembangan yang tampaknya dialami oleh banyak anak usia prasekolah. Para peneliti menemukan bahwa dua pertiga anak perempuan dan hampir setengah dari anak laki-laki mengalami tahap kepatuhan yang kaku terhadap pakaian dan mainan sesuai jenis kelamin terlepas dari preferensi orang tua mereka untuk barang yang sama. 

Ada beberapa penelitian terhadap bayi perempuan yang terpapar androgen sebelum lahir (obat untuk mencegah keguguran adalah hormon laki-laki). Dalam penelitian ini, anak perempuan ditemukan tomboi selama masa kanak-kanak daripada anak perempuan lain. Namun, saat mereka menjadi gadis dan tumbuh dewasa, mereka menjadi perempuan dalam keinginan mereka untuk menikah dan menjadi ibu. 

Studi lain meneliti cara pria dan wanita merespons rangsangan seksual visual dan menemukan bahwa meskipun pria dan wanita dapat melaporkan sama-sama terangsang oleh gambar erotis, serta apa yang terjadi di otak mereka sangat berbeda. Pada laki-laki area amigdala dan hipotalamus dari sistem limbik akan lebih aktif daripada wanita. 

> Pengaruh Lingkungan

Walaupun gadis-gadis yang sebelum lahir pada awalnya terpapar androgen, kemudian saat mereka gadis akan lebih memilih feminim, ini karena dipengaruhi oleh tekanan masyarakat. Dalam sebagian besar budaya, ada peran tertentu yang diharapkan dijalankan oleh laki-laki dan perempuan dan tekanan yang dapat ditimbulkan terhadap seseorang yang tidak memenuhi harapan ini bisa sangat besar. 

> Budaya dan Gender

Budaya seseorang juga merupakan pengaruh lingkungan. Meskipun studi lintas budaya awal menunjukkan bahwa perbedaan budaya memiliki pengaruh yang kecil pada peran gender, penelitian terbaru menunjukkan bahwa dalam beberapa dekade terakhir, telah terjadi perubahan dalam budaya yang memiliki "kepribadian" yang berbeda. Budaya yang lebih individualistis dan memiliki standar hidup yang cukup tinggi menjadi lebih nontradisional, terutama bagi perempuan dalam budaya tersebut. Pandangan gender yang lebih tradisional dianut oleh budaya kolektivistik. 

> Teori Pembelajaran Sosial

Teori pembelajaran sosial menekankan pembelajaran melalui pengamatan dan peniruan model, mengaitkan pengembangan peran gender dengan proses tersebut. Anak-anak mengamati orang tua sesama jenis beperilaku denga cara tertentu  dan meniru perilaku tersebut. Saat anak-anak meniru perilaku gender yang sesuai, mereka diperkuat dengan perhatian positif. Perilaku gender yang tidak pantas akan diabaikan atau secara aktif dicegah. Anak-anak juga akan terpapar perilaku gender di televisi dan media lainnya.

> Teori Skema Gender

Teori pengembangan peran gender yang menggabungkan teori pembelajaran sosial dengan perkembangan kognitif. Dalam teori yang didasarkan pada konsep skema Piagetian, anak-anak mengembangkan skema, atau pola mental, untuk menjadi laki-laki atau perempuan dengan cara yang sama seperti mereka mengembangkan skema untuk konsep lain seperti "anjing", "burung", dan lainnya. Saat otak mereka matang, mereka jadi mampu membedakan berbagai konsep. Maka pada gender, anak-anak mengembangkan konsep "laki-laki", dan "perempuan". Setelah skema itu ada, anak-anak dapat mengidentifikasi diri mereka sebagai "laki-laki" dan "perempuan" dan akan memperhatikan anggota lain dari skema tersebut. Mereka akan memperhatikan perilaku "anak laki-laki" atau "perempuan" dan meniru perilakunya. Bukti dari teori ini saat bayi dapat membedakan antara wajah, dan suara laki-laki atau perempuan sebelum usia 1 tahun. 

> Stereotip Gender

Stereotip adalah konsep yang dapat dipegang tentang seseorang atau sekelompok orang yang didasarkan pada karakteristik yang sangat dangkal. Stereotip gender adalah konsep tentang laki-laki atau perempuan yang memberikan berbagai karakteristik kepada mereka atas dasar tidak lebih dari menjadi laki-laki atau perempuan. 

Stereotip gender laki-laki : agresif, logis, tegas, tidak emosional, tidak peka, tidak mengasuh, tidak sabar, dan berbakat secara mekanis.

Stereotip gender wanita : tidak logis, mudah berubah, emosional, sensitif, mengasuh secara alami, sabar, dan pandai dalam hal memahami mesin. 

Stereotip dapat menyebabkan seksisme, yaitu prasangka tentang laki-laki dan perempuan. Beberapa penelitian mengklaim bahwa stereotip positif dapat menyebabkan seksisme yang baik hati, yaitu prasangka yang lebih dapat diterima secara sosial tetapi tetap menyebabkan laki-laki dan perempuan diperlakukan tidak setara. Stereotip baik positif maupun negatif, menekankan ketidaksetaraan antar jenis kelamin dan dapat menyebabkan peningkatan diskriminasi. 

> Androgini

Psikolog Sandra Bem mengembangkan konsep androgini untuk mengembangkan karakteristik orang yang kepribadiannya mencerminkan karakteristik laki-laki dan perempuan, tanpa memandang jenis kelamin. Konsep ini memungkinkan seseorang untuk lebih fleksibel dalam perilaku sehari-hari dan pilihan karier. Orang-orang androgini dapat membuat keputusan berdasarkan situasi daripada menjadi maskulin atau feminim. Pada penemuan selanjutnya, androgini dapat menyebabkan keterampilan coping yang lebih baik, efektif, dan efisien selama masa stres. 


Perbedaan Jenis Kelamin

> Perbedaan Kognitif

Para peneliti lama berpendapat bahwa skor perempuan lebih tinggi pada tes kemampuan verbal daripada laki-laki dan skor laki-laki lebih tinggi pada tes keterampilan matematika dan keterampilan spasial. Tetapi saat ini masyarakat mulai memandang kedua gender lebih setara dalam kemampuan dianggap sebagai tanda bahwa perlakuan yang lebih setara dalam masyarakat telah mengurangi perbedaan gender. 

> Perbedaan Sosial dan Kepribadian

Perbedaan yang biasanya dikutip antara pria dan wanita dalam cara mereka berinteraksi dengan orang lain dan dalam sifat kepribadian mereka merupakan hasil dari pemikiran stereotip tentang jenis kelamin. Dalam komunikasi antar sesama, penelitian menunjukkan bahwa ketika pria berbicara satu sama lain, mereka cenderung berbicara tentang peristiwa terkini, olahraga, dan lainnya. Gaya komunikasi yang digunakan oleh pria disebut gaya komunikasi "laporan" dan sering melibatkan pergantian topik. Sebaliknya, wanita cenderung menggunakan gaya komunikasi "berhubungan" satu sama lain, mengungkapkan banyak hal tentang kehidupan pribadi mereka dan menunjukkan perhatian dan simpati. Pada studi lain, dengan teknologi fMRI, menunjukkan bahwa pria mendengarkan dengan belahan otak kiri saja, sedangkan wanita mendengarkan dengan kedua belahan otak, maka ini menunjukkan bahwa wanita memperhatikan nada dan emosi pernyataan serta isinya. 


PERILAKU SEKSUAL MANUSIA

Respons Seksual 

Masters dan Johnson (1966) mengidentifikasi empat tahap siklus respons seksual dalam penelitian terobos mereka. 

Fase 1 : Kegembiraan

    Fase pertama ini adalah awal dari gairah seksual dan dapat berlangsung mulai dari menit hingga beberapa jam. Denyut nadi meningkat, tekanan darah meningkat, pernapasan menjadi lebih cepat, dan kulit mungkin menunjukkan kemerahan terutama di area dada atau payudara. Pada wanita, klitoris membengkak, bibir vagina terbuka, dan bagian vagina menjadi lembab sebagai persiapan untuk berhubungan. Pada pria, penis menjadi ereksi, testis tertarik ke atas, dan kulit skrotum mengencang. Pada pria maupun wanita, puting akan mengeras dan menjadi lebih tegak pada kedua jenis kelamin (terutama pada wanita). 

Fase 2 : Plateau

    Fase ini merupakan lanjutan dari fase pertama. Fase ini berlangsung hanya beberapa detik hingga beberapa menit. Pada wanita, bagian luar vagina membengkak dengan jumlah darah yang meningkat ke area tersebut, sedangkan klitoris masuk ke bawah tudung klitoris tetapi tetap sangat sensitif. Bibir luar vagina menjadi lebih merah. Pada pria, penis menjadi lebih ereksi dan mungkin mengeluarkan beberapa tetes cairan. 

Fase 3 : Orgasme

     Fase ketiga adalah fase terpendek dari tiga tahap dan melibatkan serangkaian kontraks otot berirama yang dikenal sebagai orgasme. Pada wanita, ini melibatkan otot-otot dinding vagina dan bisa terjadi berkali-kali, berlangsung sedikit lebih lama dari pengalaman orgasme pria. Rahim juga berkontraksi, menciptakan sensasi yang menyenangkan. Pada pria, kontraksi orgasmik otot di dalam dan sekitar penis memicu pelepasan air mani, cairan yang mengandung sel sperma. Pria biasanya hanya mengalami satu kali orgasme yang intens. Waktunya juga berbeda untuk wanita dan pria, wanita membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai orgasme dibandingkan pria dan wanita membutuhkan lebih banyak rangsangan untuk mencapai orgasme. 

Fase 4 : Resolusi 

     Fase resolusi merupakan kembalinya tubuh ke keadaan normal sebelum gairah dimulai. Darah yang menyumbat pembuluh darah di berbagai area kemaluan menyusut, detak jantung, tekanan darah, dan pernapasan semua berkurang ke tingkat normal selama fse ini. Pada wanita, klitoris ditarik kembali, warna bibir vagina kembali normal, dan bibir vagina menutup kembali. Pada  pria, ereksi hilang, testis turun, dan kantung skrotum kembali menipis. Pria memiliki refraktori di mana mereka tidak dapat mencapai orgasme lagi, berlangsung dari beberapa menit hingga beberapa jam untuk individu yang berbeda. Semakin tua pria, maka semakin lama periode refraktori cenderung memanjang. 

Berbagai Jenis Perilaku Seksual 

1. Studi Kinsey

Penemuan Kinsey mengenai masturbasi, seks anal, dan seks pranikah. Kinsey percaya bahwa orientasi seksual bukanlah salah satu atau situasi di mana seseorang benar-benar heteroseksual atau homoseksual sepenuhnya, melainkan bahwa orientasi seksual berada dalam sebuah kontinum. Pada tahun 1953, Kinsey melakukan survei dengan sebagian pesertanya adalah pemuda Protestan yang berpendidikan, urban, dan muda. Dalam hasilnya, hampir separuh laki-laki tetapi kurang dari 20% dari perempuan dilaporkan memiliki pengalaman biseksual. Akan tetapi, banyak pertentangan mengenai studi ini karena dianggap memperhatikan perilaku sesksual yang tidak normal dan rentan terhadap pemalsuan. 

2. Laporan Janus

Temuan dari laporan Janus tidak terlalu berbeda dari temuan studi kinsey. Pada penemuan ini, lebih sedikit laki-laki yang melaporkan melakukan masturbasi (80% : 92%), tetapi persentase perempuan yang melaporkan meningkar dari 62% dalam survei Kinsey menjadi 70% dalam survei Janus. Tingkat seks pranikah hampir sama dengan survei Kinsey, pria melaporkan lebih sedikit seks di luar nikah dan wanita melaporkan sama dengan survei Kinsey. Persentase laki-laki dan perempuan dalam survei Janus yang melaporkan sebagai mayoritas homoseksual juga sangat mirip dengan penelitian Kinsey sebelumnya. 

3. Survei Nasional Kesehatan dan Perilaku Seksual

Dari sampel representatif secara nasional yang didapat dari 5865 remaja dan orang dewasa Amerika Serikat berusia 14 hingga 94 tahun, penelitian mereka menghasilkan gambaran yang luas dan komprehensif tentang pengalaman seksual dan perilaku penggunaan kondom. Dilihat dari data keseluruhan, tingkat tertinggi dilaporkan selama masa remaja lebih tinggi untuk pria daripada wanita, dan lebih tinggi antara orang kulit Hitam dan Hispanik. 

Laki-laki jauh lebih aktif secara seksual daripada perempuan, itu mungkin karena ada di dalam gen mereka. Teori evolusi menekankan bahwa organisme akan melakukan apa yang harus mereka lakukan untuk memaksimalkan peluang mewariskan materi genetik mereka pada keturunannya dan proses itu berbeda untuk pria dan wanita. Menurut Robert Trivers, mengusulkan teori investasi orang tua. Laki-laki dari banyak spesies, tidak perlu menginvestasikan banyak waktu atau upaya untuk menghamili perempuan, jadi mereka akan mencari banyak pertemuan seksuan dengan banyak pasangan seksual. Sedangkan, wanita menginvestasikan lebih banyak waktu dan upaya untuk bereproduksi, seperti kehamilan, memberi makan bayi, dan sebagainya. Jadi perempuan lebih selektif tentang laki-laki yang mereka pilih untuk berhubungan seks.  

Orientasi Seksual 

Orientasi seksual adalah ketertarikan dan kasih sayang seksual seseorang terhadap lawan jenis atau sesama jenis. Orientasi seksual kemungkinan merupakan hasil dari biologi (struktur otak, genetika) dan lingkungan. Kehadiran struktur biologis berimplikasi pada definisi masyarakat tentang keragaman vs penyimpangan. 

1. Heteroseksualitas, yaitu ketertarikan pada lawan jenis, paling umum dan dapat diterima secara sosial.

2. Homoseksualitas, yaitu ketertarikan pada sesama jenis.

3. Biseksualitas, yaitu ketertarikan pada anggota dari kedua jenis kelamin.

4. Aseksualitas, yaitu kurangnya ketertarikan seksual kepada siapapun atau kurangnya minat dalam aktivitas seksual. 


KESEHATAN SEKSUAL

Infeksi Menular Seksual (IMS)

Ini merupakan akibat dari kontak seksual tanpa pelindung. Beberapa IMS, yaitu sebagai berikut :

1. Klamidia, infeksi bakteri yang tumbuh di dalam sel-sel tubuh. Dengan gejala testis bengkak, keluar cairan, terbakar saat buang air kecil, wanita tidak mengalami gejala. 

2. Sipilis, infeksi bakteri. Dengan gejala luka yang muncul pada atau di area genital dan dapat menyebar ke bagian tubuh lain dan otak. 

3. Gonorea, infeksi bakteri yang tumbuh dengan cepat di area tubuh yang hangat dan lembab (mulut, anus, tenggorokan, alat kelamin). Dengan gejala pada pria cairan keruh berbau busuk dari penis, terbakar saat buang air kecil dan pada wanita serviks merdang, dan keputihan ringan. 

4. Bulu Kemaluan, virus herpes simpleks. Dengan gejala luka di area genital, gatal, terbakar, berdenyut, sensasi "kesemutan" di mana luka akan segera muncul. 

5. Kutil Kelamin, virus papiloma manusia (HPV). Dengan gejala pertumbuhan berkutil pada alat kelamin. 

6. Acquired Immune Deciency Syndrome (AIDS), disebabkan oleh infeksi virus Human Immunodeciency Virus (HIV). Seringkali dikaitkan dengan infeksi opotunistik. Belum diketahui obatnya, dapat menyerang wanita dan pria dari semua orientasi seksual dan terus memengaruhi budaya di seluruh dunia. 

IMS akan mempengaruhi organ seks atau memiliki efek yang lebih luas dan mengancam jiwa. Infeksi bakteri dapat diobat dengan antibiotik jika diketahui lebih awal, sedangkan virus sulit diobati dan mungkin tidak dapat disembuhkan. 


Contoh di Kehidupan Sehari-Hari :

1. Terdapat seorang anak perempuan yang berperilaku seperti laki-laki, karena dia meniru figur yang ada di sekelilingnya, yaitu ayahnya dan kakak laki-lakinya.

2. Di Indonesia sekarang sering terjadi ketertarikan sesama jenis, ini disebabkan karena adanya trauma dan gangguan lainnya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH PERKEMBANGAN PSIKOLOGI MODERN